Kenapa Pertamina kalah jauh dibandingkan Petronas Malaysia ?

 Jika kalian penggemar balap Formula 1 atau F1,

pasti tidak asing dengan logo Petronas.


Kenapa Pertamina kalah jauh dibandingkan Petronas Malaysia ?



Yess, logo ini menjadi partner utama tim Mercedes-AMG.

Sebagai perusahaan migas Malaysia, pasti bikin warga negara tersebut bangga

melihat pebalap sekelas Lewis Hamilton

mengendarai mobil yang ada tulisan Petronas-nya.

Dan yess, bagi orang Indonesia, tentu kita tidak mau kalah dari tetangga serumpun kita itu.

Sayangnya, perusahaan kebanggaan kita – Pertamina –

saat ini tidak ada di titik yang sama dengan Petronas.

Tahun 2016 lalu Pertamina memang sempat jadi sponsor tim Manor di F1

dengan Rio Haryanto sebagai pembalapnya,

walaupun hanya di situ saja kisahnya berhenti.



Kenapa Pertamina kalah jauh dibandingkan Petronas Malaysia ?


Tapi, ini bukan hanya soal jago-jago-an di F1 atau kelas balapan yang lain.

Ini tentang narasi perbandingan dua perusahaan kebanggaan masing-masing negara.

Petronas dikenal dunia dengan menara kembarnya

yang antara tahun 1998-2004 tercatat sebagai bangunan tertinggi di dunia.

Perusahaan tersebut juga masuk daftar Fortune Global 500

dengan menempati posisi 277 pada tahun 2021 lalu.

Sementara Pertamina belum berhasil ada di dalam daftar tersebut.

Yang selalu hadir dalam pergunjingan masyarakat Indonesia

justru kebanyakan soal politik


– misalnya soal Pak Ahok yang jadi komisaris,

atau soal kebijakan politik yang berhubungan dengan bahan bakar.

But seriously, kenapa ya Pertamina tidak seperti Petronas?



Padahal dulu di awal pendiriannya, Petronas justru belajar banyak dari Pertamina.

Inilah Saga Dua Kuasa Minyak.

Sebagai perusahaan yang ada lebih dahulu,

Pertamina awalnya bercikal bakal dari PT Eksploitasi Tambang Sumatra Utara.

Ceritanya, pada 10 Desember 1957,

Kepala Staf Angkatan Darat Kolonel Abdul Haris Nasution

menunjuk Kolonel Ibnu Sutowo sebagai Komandan Operasi Sadar sekaligus sebagai

Direktur Utama perusahaan tambang minyak.

Penunjukan Ibnu oleh Nasution disebut untuk mengembalikan normalisasi

di kalangan pejabat militer, terutama untuk menyelamatkan kilang-kilang minyak.

Hal ini seperti ditulis oleh Mara Karma dalam Ibnu Sutowo Mengemban Misi Revolusi.



Nah, PT Eksploitasi Tambang Sumatra Utara ini kemudian diganti namanya menjadi

Perusahaan Minyak Nasional alias Permina.

Permina kemudian bergabung dengan perusahaan negara lain bernama Pertamin,

sehingga lahirlah Pertamina pada tahun 1968.

Sedangkan Petronas baru berdiri pada tahun 1974.

Awalnya, pengelolaan eksplorasi minyak di wilayah Malaysia

dikuasai oleh perusahaan asing macam Royal Dutch Shell.

Akibat krisis minyak yang terjadi setelah perang berkecamuk di Timur Tengah

pada tahun 1970-an,

pemerintah Malaysia melihat pentingnya bagi negara tersebut

untuk punya perusahaan migas sendiri.



Pemerintah Malaysia saat itu salah satunya melihat mekanisme tata kelola industri

migas di Indonesia yang menggunakan production sharing agreement

sebagai model yang ideal untuk dijalankan.

Akhirnya keluarlah Petroleum Development Act pada tahun 1974

yang mensyaratkan semua perusahaan migas asing

yang beroperasi di Malaysia untuk bernegosiasi dengan Petronas

terkait production sharing.

Perusahaan yang menolak akan dianggap beroperasi secara ilegal di Malaysia.

Nah, ada kisah menarik juga yang melibatkan tarik menarik kepentingan kekuasaan

di wilayah Sabah yang berkaitan dengan pembagian royalty.

Pemimpin Sabah kala itu, Tun Mustapha, ingin royalty hingga 20 persen

dari yang semula hanya 5 persen.

Kenapa Pertamina kalah jauh dibandingkan Petronas Malaysia ?
 Tun Mustapha



Ia mengancam akan menarik Sabah keluar dari Malaysia.

Setelah proses politik yang cukup pelik,

akhirnya Petronas berhasil mengontrol sepenuhnya cadangan migas

di seluruh wilayah Malaysia.

Cukup rumit juga ya kisahnya.

Intinya, Petronas saat itu memang ingin mencontoh Indonesia

yang lewat Pertamina bisa memproduksi minyak hingga 1,5 juta barrel per hari

di tahun 1980-1990-an.



Petronas menjadikan Pertamina sebagai tempat “berguru”.

Apalagi, prestasi Indonesia di sektor migas saat itu memang patut dibanggakan.

Belum genap dua puluh tahun sejak kemerdekaan diproklamasikan saja

Indonesia sudah bisa masuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia alias OPEC

dan berdiri sejajar dengan negara seperti Arab Saudi, Qatar, Venezuela, dan lainnya.

Namun, situasi kemudian berbalik.

Di tahun 2005 angka konsumsi minyak Indonesia lebih tinggi ketimbang produksi.

Alhasil Indonesia resmi menjadi net importir dan hengkang dari OPEC

pada tahun 2008 – sekalipun mengaktifkan keanggotaannya lagi di tahun 2016.

Sementara Malaysia?



Well, di tahun 2007 posisi Petronas meroket ke nomor 17 dunia

berdasarkan peringkat yang dibuat Petroleum Intelligent Weekly.

Pada saat yang sama Pertamina merosot ke nomor 30 dunia.

Semakin ke sini, posisi Indonesia juga semakin melemah.

Kementerian ESDM menyebut cadangan minyak dalam negeri hanya tersisa

hingga tahun 2030 dengan asumsi produksi di 800 ribu barel per hari

tanpa adanya temuan cadangan baru.

Sedangkan data dari British Petroleum,

cadangan minyak terbukti Indonesia ini jauh kalah dibanding negara tetangga

seperti Malaysia dan bahkan kalah dari Vietnam.

Di tahun 2017, cadangan minyak  Malaysia tercatat sebesar 3,60 miliar barel.

Sementara cadangan minyak terbukti Indonesia hanya tersisa 3,17 miliar barel

pada periode yang sama.

Meskipun sama-sama mengalami tren penurunan,

laju penurunan cadangan minyak Malaysia masih lebih lambat dibandingkan Indonesia.

Bahkan, cadangan minyak mentah Malaysia cenderung stabil dalam 8 tahun terakhir.



Tentu pertanyaannya adalah kok Indonesia dan Pertamina bisa tiba-tiba kalah ya

dari Malaysia dan Petronas?


Hal pertama tentu saja adalah konteks posisi finansial.

Posisi finansial Petronas jauh lebih kuat.

Dari sisi belanja barang modal alias capital expenditure atau CAPEX misalnya.

Pada tahun 2017 lalu realisasi CAPEX Pertamina hanya di kisaran US$ 3,60 miliar.

Sementara realisasi CAPEX Petronas mencapai US$ 10,75 miliar.

Ini belum lagi kalau bicara soal net profit.

Intinya secara kekuatan finansial, Petronas jauh lebih superior dibanding Pertamina.

Hal berikutnya adalah dari sisi inovasi dan teknologi.



Petronas misalnya punya proyek Enhanced Oil Recovery berskala besar

– bahkan terbesar di Asia Tenggara.

Ini adalah semacam proyek untuk memperpanjang umur cadangan di sumur minyak tertentu.

Nah, Pertamina juga punya proyek yang sama.

Namun, seperti dikutip dari CNBC Indonesia,

proyek tersebut masih dalam skala kecil.

Kemudian, hal lain yang tidak kala penting adalah relasi perusahaan

dengan politik dan negara.

Bukan rahasia lagi bahwa Pertamina punya public service obligation

yang cenderung lebih tinggi.



Hal ini sendiri pernah disinggung langsung oleh Kementerian BUMN.

Konteks ini kemudian sangat berelasi dengan kepentingan penguasa yang ada.

Di era Pak Jokowi misalnya,

kebijakan BBM satu harga secara hitung-hitungan ekonomi jelas akan merugikan perusahaan.

Harga BBM di Jakarta harus sama dengan di Papua,

Kalimantan, Sumatra, dan daerah-daerah lain.

Hal ini tentu sulit, mengingat ada biaya distribusi dan transportasi

yang “diabaikan” dalam kebijakan tersebut,

yang kemudian semuanya akan ditanggung oleh Pertamina.

Kebijakan yang demikian ini tidak terjadi pada Petronas.

Dengan kemampuan dan inovasi yang dimiliki,

Petronas juga mampu memiliki industri yang lengkap dari hulu hingga hilir.

Sementara Pertamina, akibat relasi yang kuat dengan kekuasaan

dan politik pada akhirnya tak mampu mengimbangi kemajuan Petronas.

Ini juga tidak lepas dari kebijakan publik yang buruk di sektor energi.



Ketua SETARA Institute, Hendradi, menyebut Pertamina menjadi “sapi perah”

bagi kepentingan kelompok-kelompok tertentu.

Akibatnya, perusahaan tersebut tak bisa berfokus secara profesional

berjuang menjadi pemain global.

Status perusahaan minyak yang dari awal dikendalikan oleh militer sejak penugasan

Nasution di tahun 1957 pada akhirnya membelenggu Pertamina sendiri.

Pada akhirnya, memang tak pernah fair untuk membandingkan Pertamina

dengan Petronas.

Tapi, setidaknya kita belajar bahwa jika kebijakan publik

dan tata kelola industri migas kita diperbaiki,

maka mimpi untuk jadi sponsor olahraga bergengsi macam Formula 1

bukanlah hal yang mustahil.

Sebab, bagaimanapun juga, Pertamina adalah nation brand Indonesia.

SRC : PinterPolitik TV


Sekian blog kali ini mengenai Kenapa Pertamina kalah jauh dibandingkan Petronas Malaysia ?, apabila terdapat kesalahan mohon maaf karena saya manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan,  sekian Terimakasih telah mengunjungi blog saya .


[' '] 

Iklan ada di sini

Komentar